Kubu Raya post author Kiwi 28 Juni 2026

Singkong, Jalan Kehidupan Mantan Pekerja Migran Kubu Raya

Photo of Singkong, Jalan Kehidupan Mantan Pekerja Migran Kubu Raya TUNJUKKAN PRODUK - Dewi Kholisah, menunjukkan Rengginang Singkong di halaman rumah produksinya di Jalan Margodadi, Dusun III, Desa Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya.suara pemred/aep mulyanto

KUBU RAYA, SP - Pagi belum terlalu tinggi ketika Dewi Kholisah mulai berkeliling di halaman rumah produksinya di Jalan Margodadi, Dusun III, Desa Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya.

Sesekali ia memeriksa singkong yang semalam datang dari kebun, melihat proses pengolahan yang sedang berlangsung, lalu mengamati ribuan keping rengginang yang dijemur berjejer di atas para-para bambu.

Di rumah sederhana itulah lahir Rengginang Singkong Al-Hidayah, usaha yang kini dikenal hingga berbagai daerah di Kalimantan Barat (Kalbar). Bagi Dewi, setiap keping rengginang bukan sekadar camilan. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum usaha itu berdiri.

"Awalnya memang tidak mudah. Berkali-kali gagal, tapi saya terus mencoba sampai akhirnya berhasil," kata Dewi.

Perempuan empat anak ini pernah menghabiskan hampir sembilan tahun bekerja di Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Pada awal 1990-an, ia meninggalkan kampung halaman dengan harapan membantu ekonomi keluarga dan memperbaiki masa depan.

Ketika kembali ke tanah air, Dewi membawa satu tekad besar, yakni membangun usaha sendiri. Ia tidak ingin selamanya bergantung pada pekerjaan orang lain.

Tahun 2009 menjadi titik awal ketika ia mulai mencoba mengolah singkong menjadi rengginang dari dapur rumahnya. Modal yang dimiliki sangat terbatas.

Bahkan, proses menemukan resep yang tepat pun tidak berlangsung mulus. Lima kali percobaan yang dilakukannya berakhir gagal. Ada adonan yang terlalu lembek, tidak mengembang, bahkan hancur saat digoreng.

Namun kegagalan tidak membuatnya berhenti. Selama sekitar satu minggu, Dewi terus memperbaiki resep hingga menemukan formula yang menghasilkan rengginang singkong yang renyah dan gurih. Sejak saat itu, usahanya perlahan mulai tumbuh.

Setiap hari, singkong pilihan dari petani lokal dikupas, dicuci, diparut, lalu diperas sebelum dicampur bumbu dan dicetak. Setelah itu, adonan dijemur hingga benar-benar kering.
Bagi Dewi, proses penjemuran menjadi salah satu tahap penting dalam menjaga kualitas produknya.

"Kalau dijemur langsung dengan matahari hasilnya lebih bagus dan lebih mekar saat digoreng," ujarnya.

Rengginang Singkong Al-Hidayah kini hadir dalam empat varian rasa, yakni original, pedas, terasi, dan udang.

Seluruh varian dipasarkan dengan harga Rp16.000 per bungkus. Cita rasa khas dan kualitas yang terjaga membuat produk tersebut semakin diminati masyarakat.
Seiring waktu, pesanan terus bertambah. Jika dulu hampir semua pekerjaan dilakukan sendiri, kini Dewi dibantu sejumlah ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya.

Salah satunya adalah Ida Pratiwi. Perempuan yang akrab disapa Bu Ida itu sudah lama membantu proses produksi. Pagi itu, tangannya terlihat cekatan menata rengginang yang baru dicetak, sambil sesekali berbincang dengan pekerja lainnya.

"Tiap hari kami sudah seperti keluarga. Kami sangat bahagia bisa membantu membesarkan usaha ini," katanya sambil tersenyum.

Ida masih mengingat masa-masa awal ketika produksi rengginang belum sebesar sekarang. Saat itu hanya sedikit warga yang terlibat.
Namun seiring meningkatnya permintaan, semakin banyak ibu rumah tangga yang ikut membantu.

"Kalau ada pesanan banyak, kami ikut membantu. Alhamdulillah, selain menambah penghasilan, kami juga bisa tetap dekat dengan keluarga karena kerjanya di kampung sendiri," ujarnya.

Bagi Ida dan warga lainnya, usaha yang dibangun Dewi bukan sekadar tempat mencari tambahan penghasilan. Kehadirannya juga memberi ruang bagi perempuan di desa untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga.

Manfaat usaha tersebut ternyata tidak berhenti di rumah produksi. Dampaknya juga dirasakan para petani singkong yang menjadi pemasok bahan baku.

Di antara mereka ada Saleh Daulay, petani singkong yang selama bertahun-tahun menggantungkan penghasilan dari hasil panen di Rasau Jaya Tiga.

Menurut Saleh, sebelum usaha rengginang berkembang, petani sering kesulitan mendapatkan pembeli dengan harga yang layak. Tidak jarang hasil panen harus dijual dengan harga rendah karena terbatasnya pasar. Kini kondisinya berbeda.

"Sekarang hasil panen lebih mudah terserap. Kami tidak terlalu khawatir lagi kalau panen banyak karena sudah ada yang membeli untuk bahan baku rengginang," katanya.

Bagi Saleh, berkembangnya usaha Dewi bukan hanya menjadi cerita sukses seorang pelaku UMKM. Di balik itu, ada rantai ekonomi yang ikut bergerak, mulai dari petani hingga para pekerja yang terlibat dalam proses produksi.

Dari tangan para petani, singkong kemudian diolah menjadi rengginang yang perlahan mendapatkan tempat di hati konsumen.

Salah satu pelanggan setianya adalah Nadila Rizki, warga Kabupaten Sekadau. Ia mengenal produk tersebut dari kerabatnya dan sejak itu rutin membeli, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Menurut Nadila, cita rasa rengginang produksi Dewi memiliki keunikan tersendiri dibanding produk sejenis yang pernah ia coba.

"Rasanya khas, gurih, renyah, dan pilihan rasanya juga banyak. Kalau Lebaran, keluarga memang selalu mencari rengginang Bu Dewi untuk disajikan kepada tamu," tuturnya.

Popularitas produk tersebut juga dirasakan para pelaku usaha oleh-oleh di Kota Pontianak. Asnawati, pemilik toko oleh-oleh di kawasan PSP Pontianak, mengatakan Rengginang Singkong Al-Hidayah termasuk salah satu produk yang cukup diminati pelanggan.

"Produk Bu Dewi punya pelanggan sendiri. Banyak pembeli yang sengaja mencari karena rasanya khas dan kualitasnya konsisten. Apalagi varian rasanya beragam, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh khas Kalimantan Barat," ujar Asnawati.

Cerita Nadila dan Asnawati menjadi gambaran bagaimana produk yang awalnya dibuat dari dapur rumah kini mampu menjangkau konsumen di berbagai daerah. Permintaan yang terus meningkat membuat usaha Dewi berkembang dari tahun ke tahun.

Salah satu titik penting dalam perkembangan tersebut terjadi pada 2015 ketika Dewi memperoleh akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia. Tambahan modal sekitar Rp50 juta membuat kapasitas produksinya meningkat signifikan.

Dari yang semula hanya mampu mengolah sekitar lima hingga 10 kilogram singkong per hari, kini produksinya mencapai 25 sampai 30 kilogram per hari. Usahanya pun naik kelas dari ultra mikro menjadi usaha mikro yang lebih mapan.

Perkembangan itu disaksikan langsung oleh Ya' Ramadhan, Mantri BRI Unit Rasau Jaya yang saat ini mendampingi usaha Dewi. Menurutnya, keberhasilan Dewi tidak semata-mata ditentukan oleh dukungan modal usaha.

"Kami melihat beliau sangat konsisten menjalankan usaha. Dukungan permodalan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah kemauan untuk terus berkembang. Itu yang dimiliki Bu Dewi," ujarnya.

Berkat usaha yang terus tumbuh, Dewi berhasil membiayai pendidikan ketiga anaknya, memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, membangun rumah yang lebih layak, hingga mewujudkan impian menunaikan ibadah haji.

Namun bagi Dewi, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Ia justru merasa bersyukur karena usaha yang dirintis dari dapur rumah kini mampu memberi manfaat bagi banyak orang, mulai dari para pekerja, petani, hingga masyarakat yang menikmati produknya.

"Yang paling saya syukuri bukan hanya usaha berkembang, tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain," katanya. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda